sore hari yang indah

Loading...

Minggu, 31 Maret 2013

CACING TANAH Drawsida Sp.



CACING TANAH 

Drawsida Sp.

Cacing tanah
Cacing tanah merupakan hewan tidak bertulang belakang (Invertebrata) yang digolongkan ke dalam filum Annelida, ordo Oligochaeta, dan kelas Chaetopoda yang hidup dalam tanah. Penggolongan ini didasarkan pada bentuk morfologi karena tubuhnya tersusun atas segmen-segmen yang berbentuk cincin (annulus), setiap segmen memiliki beberapa pasang seta, yaitu struktur berbentuk rambut yang berguna untuk memegang substrat dan bergerak (Edwards dan Lofty, 1977).

Morfologi dan Anatomi
Secara alamiah, morfologi dan anatomi cacing tanah berevolusi menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Arlen (1994) menjelaskan bahwa cacing tanah yang ditemukan hidup di tumpukan sampah dan tanah sekitarnya mempunyai ukuran panjang sangat bervariasi, yaitu berkisar antara beberapa milimeter sampai 15 cm atau lebih.  Secara sistematik, cacing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen-segmen fraksi luar dan fraksi dalam yang saling berhubungan secara integral, diselaputi oleh epidermis berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan seta, kecuali pada dua segmen pertama (bagian mulut), bersifat hemaphrodit (berkelamin ganda) dengan peranti kelamin seadanya pada segmen-segmen tertentu. Apabila dewasa, bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelium (tabung peranakan atau rahim), tempat mengeluarkan kokon (selubung bulat) berisi telur dan ova (bakal telur). Setelah kawin (kopulasi), telur akan berkembang di dalamnya dan apabila menetas langsung serupa cacing dewasa. Tubuh dibedakan atas bagian anterior dan posterior. Pada bagian anteriornya terdapat mulut, prostomium dan beberapa segmen yang agak menebal membentuk klitelium (Edwards dan Lofty, 1977; Hanafiah, dkk. 2003).
Secara struktural, cacing tanah mempunyai rongga besar coelomic yang mengandung coelomycetes (pembuluh-pembuluh mikro), yang merupakan sistem vaskuler tertutup. Saluran makanan berupa tabung anterior dan posterior, kotoran dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kutikuler (Hanafiah, dkk.2003).

Ekologi cacing tanah
Populasi cacing tanah sangat erat hubungannya dengan keadaan lingkungan dimana cacing tanah itu berada. Lingkungan yang dimaksud disini adalah kondisi-kondisi fisik, kimia, biotik dan makanan yang secara bersama- sama dapat mempengaruhi populasi cacing tanah. Faktor-faktor ekologis yang memengaruhi cacing tanah meliputi: (a) keasaman (pH), (b) kelengasan, (c) temperatur, (d) aerasi dan CO2, (e) bahan organik, (f) jenis, dan (g) suplai nutrisi (Arlen, 1984; Hanafiah, dkk.2003).
Cacing tanah umumnya memakan serasah daun dan juga materi tumbuhan lainnya yang telah mati, kemudian dicerna dan dikeluarkan berupa kotoran. Kemampuan hewan ini dalam mengonsumsi serasah sebagai makanannya bergantung pada ketersediaan jenis serasah yang disukainya, disamping itu juga ditentukan oleh kandungan karbon dan nitrogen serasah. (Edwards dan Lofty,1977).
Cacing tanah yang tersebar di seluruh dunia berjumlah sekitar 1.800 spesies. Cacing tanah yang terdapat di Indonesia tergolong ke dalam famili Enchytraeidae, Glassocolicidae, Lumbricidae, Moniligastridae, Megascolicidae. Genus yang pernah ditemukan ialah Enchytraeus, Fridericia, Drawida, Dichogaster, Eudichaster,Pontoscolex, Pheretima, Megascolex, Perionyx dan Allolobophora. Dari hasil penelitian Sudarmi (1999) diketahui tiga spesies cacing tanah yang karakteristik hidup pada tumpukan sampah organik pasar yaitu spesies Megascolex sp, Peryonix sp dan Drawida sp. Dari hasil penelitian Arlen, dkk (1994), telah didapatkan tujuh spesies cacing tanah yang biasanya didapat pada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dan di timbunan sampah rumah tangga yaitu Megascolex sp., Megascolex sp., Peryonix sp, Fridericia sp, Drawida sp, Pontoscolex corethrurus dan Pheretima sp.(Arlen, 1994; Suin, 1989; Hanafiah, dkk.2003).

Megascolex sp. lebih menyukai kondisi lingkungan dengan pH sedikit asam yaitu kurang dari 6, kelembaban tanah berkisar antara 80-90% dan kadar organik tergolong tinggi lebih dari 1%, Pontoscolex corethrurus lebih menyukai kondisi lingkungan dengan pH sedikit asam kurang dari 6 dengan kadar organik tergolong cukup tinggi. Sedangkan cacing tanah dari spesies Drawida sp. lebih menyukai kondisi lingkungan dengan pH netral yaitu antara 6-7, kelembaban tanah berkisar antara 85- 95%, dan kadar organik tergolong cukup rendah lebih dari 1%. (Arlen, 1984, 1998; Sudarmi, 1999).

Manfaat cacing tanah
Telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa cacing tanah merupakan makrofauna tanah yang berperan penting sebagai penyelaras dan keberlangsungan ekosistem yang sehat, baik bagi biota tanah lainnya maupun bagi hewan dan manusia. Aristoteles mengemukakan pentingnya cacing tanah dalam mereklamasi tanah dan menyebutnya sebagai “usus bumi” (intestines of the earth) (Hanafiah, dkk.2003).
Cacing tanah selama ini diketahui sebagai makhluk yang berguna untuk menyuburkan tanah dan makanan ternak. Cacing tanah memiliki manfaat yang sangat besar, seperti di Korea selatan dan Taiwan cacing telah dikonsumsi oleh manusia untuk sumber protein hewani dan pengobatan tradisional, yang sangat di kenal sebagai Negara yang banyak mengekspor cacing tanah (Arlen,H.J, 1994).
Kegunaan cacing tanah sebagai penghancur gumpalan darah (fibrymolisis) telah di uji kebenarannya oleh Fredericq dan Krunkenberg pada tahun 1920. Selain itu, Mihara hisahi, peneliti asal Jepang, berhasil mengisolasi enzim pelarut fibrin dalam cacing tanah yang bekerja sebagai enzim proteolitik. Enzim tersebut kemudian dinamai lumbrokinase karena berasal dari cacing lumbricus. Kemudian enzim tersebut diproduksi secara komersial di Kanada sebagai obat stroke, mengobati penyumbatan pembuluh darah jantung (ischemic) dan tekanan darah tinggi Di Australia pun dilaporkan ada masyarakat yang melahap cacing tanah mentah yang masih hidup karena dipercaya dapat menyegarkan badan (Khairulman dan Amri, 2009).
Di RRC, Korea, Vietnam, dan banyak tempat lain di Asia Tenggara, cacing tahah terutama dari spesies Lumbricus sp, bisa digunakan sebagai obat sejak ribuan tahun yang lalu. Hasil penelitian terhadap cacing tanah menyebutkan bahwa senyawa aktifnya mampu melumpuhkan bakteri patogen, khususnya Eschericia coli penyebab diare. Pengalaman nyata lain juga menyebutkan cacing tanah bermanfaat untuk menyembuhkan rematik, batu ginjal, dan cacar air. Di beberapa negara Asia dan Afrika, cacing tanah yang telah dibersihkan dan dibelah kemudian dijemur hingga kering, lazim dijadikan makanan obat (healing foods). Biasanya kering disantap sebagai keripik cacing (Anonim, 2008).
Gumilar (1993) menyatakan bahwa di Jepang, Amerika Serikat dan Eropa, cacing tanah selain diolah sebagai makanan, juga digunakan untuk pupuk tanaman, bahan pembuat kosmetika serta obat-obatan. Misalnya di Jepang cacing tanah dimanfaatkan untuk produksi antidote (penawar racun) dan penurun demam. Penelitian lainnya dilakukan di Universitas Diponegoro dan Institut Teknologi Bandung yang menguji sensitivitas Salmonella typhi terhadap ekstrak cacing tanah secara in vitro. Hasil yang diperoleh menunjukkan ekstrak cacing tanah spesies Lumbricus rubellus dan Pheretima sp efektif dalam menurunkan jumlah koloni Salmonella typhi (Jacinta dkk, 1991; Ratriyani, 2000).

Drawsida Sp.
Cacing tanah ini memiliki panjang tubuh berkisar antara 30-95 mm, diameternya sekitar 3-5 mm, jumlah segmen berkisar antara 265-450 segmen, hampir tidak mempunyai pigmen biasanya berwarna cokelat abu-abu kekuningan, bagian ventral cokelat muda. Warna ujung anterior cokelat keputihan dan ujung posterior cokelat keputihan. Prostomium prolobus atau epilobus. Seta kecil berpasangan, seta mulai segmen 5/6-8/9 kebanyakan tebal. Klitelium pada segmen 10-13 berbentuk pelana di bagian depan, dan pada bagian belakang (segmen 13) berbentuk cincin, lubang kelamin jantan pada segmen 27/28. Lubang kelamin betina segmen 26-27 (Arlen, 1998).


Berikut ini adalah sistematika spesies ini :
Kerajaan        :           Animalia
Filum              :           Annelida
Kelas               :           Chaetopoda
Subkelas         :           Oligochaeta
Ordo               :           Moniligastrida
Famili             :           Moniligastridae
Genus             :           Drawida
Spesies            :           Drawida sp.

REFERENSI
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:jqXw6K7C0F4J:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31435/4/Chapter%2520II.pdf+&hl=en
http://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_tanah
 

Rabu, 03 November 2010




MAKALAH EKOLOGI TUMBUHAN

Tahapan dan Macam-macam Suksesi ekologi dalam perkembangan ekosistem

Disusun Oleh :

Kelompok 6


  1. Subeni Prasetyo (09330043)

  2. Gandha Noviandhi (09330087)

  3. Rizky Widyawati (09330105)

  4. Umi Sholeha (09330153)


JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2010


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Makalah ini yang berjudul “Berbagai Tahapan Suksesi ekologi dalam perkembangan ekosistem” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar ilmu gizi. Makalah ini memberikan penjelasan tentang kebutuhan gizi yang cukup untuk manula.

Tersusunnya makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sehingga dengan selesainya penulisan dan penyusun. Kami selaku penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak Husamah S.Pd selaku dosen pembimbing

  2. Pihak- pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca. Penulis juga menyadari makalah ini memang masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis selalu mengharapkan kritik dan saran para pembaca agar dapat memperbaiki di waktu selanjutnya.

Malang,3November2010


Penyusun


BAB 1

PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Komposisi spesies dalam komunitas akan bervariasi sepanjang waktu dimana di beberapa spesies kelimpahannya menurun, sedangkan yang lain meningkat. Beberapa perubahan mungkin hanya merupakan fluktuasi (gangguan) lokal yang kecil sifatnya, sehingga tidak memberikan arti yang penting. Perubahan yang lainya mungkin sangat basar /kuat sehingga mempengaruhi sistim secara keseluruhan. Proses keseluruhan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur disebut dengan suksesi dan suksesi juga bisa diartikan sebagai perubahan yang langsung dalam komposisi komunitas dan asosiasi biologis serta sifat-sifat ekosistem.

Kajian perubahan ekosistem dan stabilitasnya memerlukan perhatian yang tidak sederhana, ini meliputi aspek-aspek yang sangat luas seperti siklus materi /nutrisi, produktivitas, konsep energy, kaitannya dengan masalah pertanian dan juga dengan masalah konservasi. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut dengan klimaks. Dalam kondisi ini sering dikatakan bahwa sebuah ekosistem homoestatis, sebuah kondisi dimana ekosistem dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai respon yang terkoodinasi dari komponen penyusun sub-sub sistem terhadap setiap rangsangan yang cenderug mengganggu kondisi normal komunitas. Dinamika di alam adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari. Segala sesuatu yang sekarang ada sebenarnya hanyalah merupakan suatu stadium dari deretan proses perubahan yang tidak pernah ada akhirnya. Keadaan keseimbangan yang tampaknya begitu mantap, hanyalah bersifat relatif karena keadaan itu segera akan berubah jika salah satu dari komponennya mengalami perubahan.

Suksesi merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks. Klimaks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim.


    1. Rumusam Masalah

  • Apa pengertian suksesi ekologi ?

  • Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi suksesi ekologi ?

  • Apa saja tahapan-tahapan dalam suksesi ekologi ?

  • Apa saja macam-macam dari suksesi ekologi ?


    1. Tujuan

  • Untuk mengetahui pengertian suksesi ekologi ?

  • Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam suksesi ekologi ?

  • Unntuk mengetahui tahapan-tahapan dalam suksesi ekologi ?

  • Untuk mengetahui macam-macam dari suksesi ekologi ?


BAB II

PEMBAHASAN

    1. Pengertian suksesi ekologi

Istilah suksesi digunakan pertama kali oleh Hult pada tahun 1885 dalam studi tentang perubahan pada komunitas. Dasar studi suksesi sendiri dicetuskan oleh Cowles pada thun 1899, sedangkan prisip-prinsip dan teori suksesi dikemukakan secara mendalam dan seksama oleh Clement pada masa setelah Clowes, yaitu tahun 1907.(Gopal dan Bharwaj, 1979).

Beberapa pengertian tentang istilah suksesi dikemukakan sebagai berikut,

  • Suksesi yaitu perubahan langsung secara keseluruhan pada selang waktu lama, bersifat kumulatif, dari dalam komunitas tertentu, dan terjadi pada tempat yang sama (Gopal dan Bharwaj, 1979).

  • Suksesi yaitu proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah, berlangsung lambat, secara teratur, pasti, dan dapat diramalkan (Irwan,1992).

  • Suksesi yaitu perubahan dalam komunitas yang berlangsung secara teratur dan menuju ke satu arah (Resosoedarmo dkk,1986)

  • Suksesi yaitu suatu proses perubahan yang terjadi dalam komunitas atau ekosistem yang timbulnya menyebabkan timbulnya penggantian dari satu komunitas atau ekosistem oleh komunitas atau ekosistem yang lain(Kendeigh,1980).

Suksesi ekologis adalah komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam interaksinya, dan dalam ekosistemnya mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem tersebut menuju kedewasaan dan keseimbangan.Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis).

Lucy E. Braun (1956) mengatakan bahwa vegetasi merupakan sistem yang dinamik, sebentar menunjukkan pergantian yang kompleks kemudian nampak tenang, dan bila dilihat hubungan dengan habitatnya, akan nampak jelas pergantiannya setelah mencapai keseimbangan. Pengamatan yang lama pada pergantian vegetasi di alam menghasilkan konsep suksesi.

Odum (1971) mengatakan bahwa adanya pergantian komunitas cenderung mengubah lingkungan fisik sehingga habitat cocok untuk komunitas lain sampai keseimbangan biotik dan abiotik tercapai

Clements (1974) membedakan 6 sub komponen dalam proses suksesi yaitu:

1. Nudasi : terbukanya lahan, bersih dari vegetasi

2. Migrasi : tersebarnya biji

3. Eksesis : proses perkecambahan, pertumbuhan dan reproduksi

4. Kompetisi : adanya pergantian spesies

5. Reaksi : perubahan habitat karena aktivitas spesies

6. Klimaks : komunitas stabil

Suksesi merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks. Klimaks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim.

Beberapa ahli mengatakan bahwa proses suksesi selalu progresif artinya selalu mengalami kemajuan, sehingga membawa pengertian ke dua hal:

1. Pergantian progresif pada kondisi tanah (habitat) yang biasanya pergantian itu dari habitat yang ekstrim ke optimum untuk pertumbuhan vegetasi.

2. Pergantian progresif dalam bentuk pertumbuhan (life form).

Namun demikian perubahan-perubahan vegetasi tersebut bisa mencakup hilangnya jenis-jenis tertentu dan dapat pula suatu penurunan kompleksitas struktural sebagai akibat dari degradasi setempat. Keadaan seperti itu mungkin saja terjadi misalnya hilangnya mineral dalam tanah. Perubahan vegetasi seperti itu dapat dikatakan sebagai suksesi retrogresif atau regresi (suksesi yang mengalami kemunduran

Suksesi vegetasi menurut Odum adalah: urutan proses pergantian komunitas tanaman di dalam satu kesatuan habitat, sedangkan menurut Salisbury adalah kecenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai mencapai klimaks, dan menurut Clements adalah proses alami dengan terjadinya koloni yang bergantian, biasanya dari koloni sederhana ke yang lebih kompleks.


    1. Faktor-faktor yang berpengaruh penyebab suksesi ekologi

1. Iklim

Tumbuhan tidak akan dapat teratur dengan adanya variasi yang lebar dalam waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang-kadang membawa akibat rusaknya vegetasi baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu tempat yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya besar) dan mengubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju/air dan kilat seringkali membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada vegetasi.

2. Topografi

Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain:

* Erosi:

Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan akhirnya proses suksesi dimulai.

* Pengendapan (denudasi):

Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut.

3. Biotik

Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi


    1. Tahapan-tahapan dalam suksesi ekologi

  • Tahap Kolonisasi

Tahap awal dari suksesi adalah kolonisasi, selama tahap tersebut habitat yang kosong dipenuhi oleh organisme-organisme. Kolonisasi ini memerlukan pertama bahwa organism tersebut sampai di lokasi dan kedua organisme tersebut menjadi nyaman di sana. Kemampuan suatu organisme untuk sampai suatu tempat tergantung pada kemampuan dispersal individu tersebut dan isolsi yang ada pada daerh tersebut. Magure (1963) mempelajari penyebaran pasif dari organism-organisme perairan yang berukuran kecil dengan menempatkan stoples-stoples yang berisi larutan nutrient steril pada berbagai ketinggian di atas tanah dan berbagai jarak sepanjang kolam yang betindak sebagai sumber kolonisasi. ples Jumlah spesies dalam toples pada awalnya meningkat dengan cepat dan kemudian cenderung tetap pada beberapa jumlah yang mantap.

Dengan berjalanya waktu , jumlah spesies baru yang mantap per interval waktu menurun. Jumlah spesies cenderung mencapai nilai konstan, sedangkan komposisi spesies bervariasi dari botol. Margurie menyimpulkan bahwa pada tubuh air yang kecil dan relative homogeny dapat mengembangkan sejumlah komunitas yang berbeda yang mngarah pada kombinasi spesies yang dapat membentuk suatu kelompok stabil dan saling berinteraksi, tetapi jumlah dari jenis organism dapat setiap kelompok dapat dibatasi.

Perubahan vegetasi dapat juga mengarah pada penurunan jumlah jenis tumbuhan, penurunan kompleksitas struktur komunitas tumbuhan. Hal ini biasanya terjadi akibat penurunan kadar zat hara dari tanah, misalnya akibat dari degradasi habitat. Perubahan komunitas tumbuhan mengarah ke yang lebih sederhana disebut suksesi retrogesif.

Gams (1918) mengemukakan bahwa suksesi bisa terjadi secara alami, tetapi bisa juga timbul karena perbuatan manusia. Keduanya tidak berbeda secara mendasar.hutan yang hancur karena ditebang oleh manusia atau dihancurkan akibat longsor atau angin topan, proses suksesi yang terjadi akan relativ sama.

Namun Gams mengkatagorikan suksesi ini dalam 3 keadaan yaitu:

  1. Suksesi dengan urutan normal, yaitu adanya pengaruh terhadap vegetasi yang terus-menerus dan berlangsung dengan cepat. Misalnya vegetasi rumput yang terinjak-injak, dijadikan tempat beristirahat bimatang ternak, atau tempat berguling-guling ternak. Kondisi vegetasi akan mengalami fase perubahan selama ternak berada di tempat itu.

  2. Suksesi dengan urutan teratur, yang berasal dari gangguan berulang-ulang, mungkin siklus tetap mempunyai interval waktu antara satu gangguan dengan gangguan berikutnnya. Misalnya terjadi pada perubahan vegetasi karena adanya proses rotasi dalam pemanfaatan lahan pertanian. Clement pada tahun 1916 dan 1935 juga berpendapat bahwa suksesi merupakan perubahan yang dapat diperkirakan, berlangsung secara teratur, terutama karena adanya modifikasi lingkungan oleh organisme pembentuk koloni. Pembentuk koloni pada muilanya memodifikasi lingkungan dengan jalan mengurangi kemampuan kompetetif mereka.

  3. Suksesi dengan urutan katastrofik, yang terjadi secara hebat dan tiba-tiba yidak berirama. Biasanya karena adanya perubahan dari factor-faktor ekstrinsik seperti meletusya gunung merapi, gempa bumi, kebakaran, penebangan , pengeringan habitat akuatik yanga dapat menimbulkan katastrifik pada komunitas tumbuhan, yang kemudian cepat atau lambat akan diikuti oleh suatu proses suksesi tumbuhan.


  • Tahap Modifikasi Tempat

Dari tahap kolonisasi, organisme-organisme yang berdiam di suatu daerah akan mengubah sifat-sifat tempat tersebut. Koloni awal dari suksesi primer pada daerah terrestrial biasanya adalah mikroorganisme-mikroorganisme tanah seperti misalnya lichens (lumut kerak) yang merupakan kolonis permulaan dari bebatuan vulkanik. Organisme ini akan mempengaruhi sifat-sifat batuan yang didiami. Penelitan yang dilakukan oleh Crocker & Mayor (1955) menunjukkan bahwa banyak sifat glacial yang membentuk tanah berubah dengan cepat selama tahapan suksesional. Tiga puluh tahun setelah glaciaton, beberapa area tetap kosong dari penutupan vegetasi, pH tanah lebih tinggi dalam bagian-bagian yang kosong tersebut dibandingkan dalam area yang dikoloni oleh vegetasi. Ph tanah akan turun dengan sangat cepat, sementara daerah yang dikoloni oleh Alnus crispa selama 35 s.d 50 tahun, pH tanah turun dari yang mendekati 8 sampai mendekati 5. Pada daerah tengah belukar Alnus crispa pH mencapai 7,2 pada yang berumur 9 tahun dan 6,5 pada area yang berumur 18 tahun.


  • Tahap penigkatan Variabilitas Ruang

Tahap berikut dari modifikasi tempat adalah peningkatan variabilitas ruang (spasial) habitat. Contohnya adalah Dryas drummodii adalah tanaman pembentuk hutan yang terpenting pada suksesi awal di Alaska. Tumbuhan ini menghasilkan gradient sifat tanah. Bahan organik variasi pada bagian tengah hutan dan pada bagian tepi hutan.

Penutupan vegetasi umumnya akan berpengaruh pada perbaikan temperature, cahaya dan evaporasi. Oleh karena tranpirasi hutan akan cendreung menciptakasn kelembaban internal yang tinggi, kehilangan air dari organisme yang ada di hutan mungkin akan berkurang. Temperature udara akan lebih rendah dalam tegakan suksesi yang lebih tua.

Menurut Clement (1916 dalam gopal dan Bhardwaj,1979) telah mengemukakan sebab dan proses yang terlibat dalam suksesi. Masing-masing proses diuraikan satu per satu sebagai berikut:

  1. Nudasi

Suksesi dimulai dengan terjadinya gangguan terhadap komunitas tumbuhan. Secara umum hamper tidak ada suatu organisme yang tidak dapat hidup diatas bumi. Akan tetapi, jika tejadi bencana alam seperti letusan vulkanik, tanah longsor, banjir, hama dan penyakit, dan bencana-bencana lainnya dapat merusak kehidupan beberapa tempat di muka bumi. Pada prinsipnya, semua aktivitas baik yang dilakukan oleh manusia maupun yang terjadi secara alam dapat mengakibatkan daerah gundul, daerah terbuka, atau tidak bervrgetasi. Proses pembentukan atau terjadinya daerah terbuka, baik disebabkan olehaktivitas manusia maupun oleh aktivitasalam disebut nudasi.

  1. Invasi

Invasi adalah datangnya bakal kehidupan berbbagai spesies organism dari suatu daerah ke daerah yang baru dan menetap di daerah baru bakal kehidupan yang dimaksudkan diatas berupa buah, biji, spora, telur, larva, dan sebagainya. Invasi akan sempurna apabila telah melalui 3 tahap yaitu:

  1. Tahap pertama adalah migrasi. Biji-bijian, buah-buahan, spora, atau bakalkehidupan yang lainnya dapat pindah ke suatu daerah baru demgan perantaran angin, air, dan hewan.

  2. Tahap kedua dalam invasi adalah penyesuain. Penyesuaian merupakan proses tempat bakal kehidupan berusaha membuat daerah yang baru ditempati sebagai rumahnya.

  3. Tahap ketiga dalam invasi adalah agregasi. Agregasi merupakan penggabungan dari setiap bakal kehidupan atau organism yang datang ke daerah baru. Adanya agregasi menyebabkan beberapa organism bergabung dalam populasi yang besarpada suatu daerah tertentu. Jadi, keberhasilan invasi bergantung pada kemampuan suatu organisme untuk bereproduksi di kondisi lingkungan yang baru, kemudian setiap organisme yang sejenis akan bergabung membentuk populasi yang masing-masing populasi tersebut berupaya untuk menjadi satu kesatuan dalam suatu komunitas dan ekosistem.

  1. Kompetisi dan Reaksi

Individu-individu suatu spesies organisme cenderung meningkat jumlahnya karena proses pertumbuhan dan perkembangbiakan. Mereka semua akan bergabung dalam suatu wilayah sebagai habitat, sehingga antar organisme dalam satu wilayah tersebut akan mengalami peristiwa-peristiwa alamiah, misalnya persaingan,pemangsaan, parasitisme, komensalisme, amensalisme, dan simbiosis diantara mereka. Dengan demikian, setiap organisme yang hidup dan tumbuh dalam wilayah suksesi akan selalu berusaha menyesuaikan diri dan memodifikasi lingkungan daerah tersebut agar mereka dapat bertahan hidup. Penyusaian diri dan upaya organisme memodifikasi lingkungan merupakan salah satu hal penting dalam proses suksesi. Modifikasi lingkungan oleh organisme berjalan sedemikian rupa sehingga lingkungan tersebut menjadi cocok denganya, dan sebaliknya lingkungan akan menjadi semakin kurang baik bagi spesies organisme lain yang hadir berikutnya.

  1. Stabilitas dan Klimaks

Tingkatan terakhir dari proses suksesi dicapai ketika komunitas tersebut stabil. Kestabilan komunitas ditunjukkan keserasian hubungan di antara organisme dalam komunitas, sreta struktur komunitas yang tidak berubah. Kestabilan yang dimaksud adalah kestabilan dalam keseimbangan dinamis dengan lingkungannya. Dalam kondisi seperti itu, keadaan suatu komunitas akan tetap sama, perubahan-perubahan kecil akibat persaingan antar organisme tetap terjadi, demikian pula perubahan densitas maupun fenologi spesies secara individu terjadi terus-menerus namun perubahan itu tidak mempengaruhi struktur komunitasnya.


    1. Macam-macam dari suksesi ekologi

Di alam ini terdapat dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
1.Suksesi primer

Adalah suksesi yang terjadi belum ada vegetasinya atau di daerah yang tadinya sudah ada vegetasi, kemudian terganggu (misalnya terbakar), sehingga daerah tersebut menjadi kosong sama sekali. Pada habitat tersebut tidak ada lagi organisme dan komunitas asal yang tertinggal sehingga pada substrat yang baru ini akan berkembang suatu komunitas yang baru pula.

Ciri-ciri suksesi Primer:

  1. Berkembang pada sustrat baru

  2. Terbentuk vegetasi baru

  3. Ekosistem awal habis total

Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan Lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi. Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuknya suksesi di Gunung Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (liken) serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati maka akan mengundang datangnya pengurai. Zat yang terbentuk karma aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi sebaliknya.

Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns mengadakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu. Contoh proses yang terjadi pada suksesi primer secara garis besar sebagai berikut :

Vegetasi klimak

Vegetasi kerdu dan pohon

Vegetasi semak belukar

Vegetasi rumput dan semak kecil

Vegetasi cryptogame


2.Suksesi Sekunder

Adalah suksesi yang terjadi pada habitat yang pernah ditumbuhi vegetasi kemudian mengalami gangguan, tetapi gangguan tersebut tidak merusak total organisme sehingga dalam komunitas tersebut, substrat lama dan kehidupan masih ada. Perbedaan suksesi sekunder dan primer terletak pada kondisi habitat awal. Proses kerusakan komunitas disebut denudasi. Denudasi dapat disebabkan oleh api, pengolahan, angin kencang, hujan, gelombang laut dan penebangan hutan. Jika vegetasi yang ada kemudian musnah dan timbul lahan kosong disebut lahan sekunder atau lahan terdenudasi. Suksesi sekunder mempunyai tahap yang lebih sedikit daripada suksesi primer, dan biasanya klimaks pada suksesi sekunder lebih cepat dicapai. Ciri-ciri suksesi sekunder :

  1. Berkembang setelah ekosistem alami rusak, tetapi tidak terbentuk substrat baru

  2. Komunitas asal masih tersisa dan di dominasi oleh rerumputan

  3. Diakibatkan oleh aktivitas manusia

Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, baik secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Contohnya, gangguan alami misalnya banjir, gelombang laut, kebakaran, angin kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakaran padang rumput dengan sengaja. Contoh komunitas yang menimbulkan suksesi di Indonesia antara lain tegalan-tegalan, padang alang-alang, belukar bekas ladang, dan kebun karet yang ditinggalkan tak terurus.

Konsep Klimaks

Suksesi tanaman merupakan perubahan keadaan tanaman. Suksesi yang menempati habitat utama disebut Sere. Sedangkan variasi yang terjadi diantaranya disebut Seral. Komunitas yang timbul pada susunan itu disebut Komunitas Seral. Biasanya komunitas seral itu tidak tampak dengan jelas, mereka kenal hanya karena beberapa spesies tanaman dominan tumbuh diantaranya. Tumbuhan pertama yang tumbuh di habitat yang kosong disebut tanaman Pioner. Lazimnya suksesi tanaman tidak menunjukkan suatu seri tingkat-tingkat atau tahap-tahap tetapi terus menerus dan merupakan pergantian yang lambat dan kompleks. Penempatan individu vegetasi ini individu per individu, dan tidak merupakan loncatan-loncatan dari suatu komunitas dominan ke komunitas dominan yang lain. Spesies dominan dari suatu komunitas akan tetap stabil dalam jangka waktu yang lama. Kemudian akan bercampur dengan vegetasi baru. Vegetasi baru ini mungkin menggantikan vegetasi yang telah ada tetapi mungkin juga tidak (bila komunitas yang baru itu tidak menghendaki kondisi yang diciptakan menjadi dominan terutama dari segi kondisi pencahayaan).

Jika habitat menjadi ekstrem tidak memenuhi syarat untuk tumbuhnya tanaman-tanaman maka timbul tanaman dari komunitas berikutnya yang sesuai dengan lingkungan yang baru, kemudian tanaman ini menjadi dominan. Setelah beberapa kali mengalami pergantian semacam itu, suatu saat habitat akan terisi oleh spesies-spesies yang sesuai dan mampu bereproduksi dengan baik. Sehingga proses ini mencapai Komunitas Klimaks yang matang, dominan, dapat memelihara dirinya sendiri dan selanjutnya bila ada pergantian, maka pergantian itu relatif sangat lambat.

Di dalam kondisi klimaks ini spesies-spesies itu dapat mengatur dirinya sendiri dan dapat mengolah habitat sedemikian rupa sehingga cenderung untuk melawan inovasi baru. Di dalam konsep klimaks ini Clements berpendapat:

1. Suksesi dimulai dari kondisi lingkungan yang berbeda, tetapi akhirnya punya klimaks yang sama.

2. Klimaks hanya dapat dicapai dengan kondisi iklim tertentu, sehingga klimaks dengan iklim itu saling berhubungan. Dan kemudian klimaks ini disebut klimaks klimatik.

3. Setiap kelompok vegetasi masing-masing mempunyai klimaks.

Karena iklim sendiri menentukan pembentukan klimaks maka dapat dikatakan bahwa klimaks klimatik dicapai pada saat kondisi fisik di sub stratum tidak begitu ekstrem untuk mengadakan perubahan terhadap kebiasaan iklim di suatu wilayah. Kadang-kadang klimaks dimodifikasi begitu besar oleh kondisi fisik tanah seperti topografi dan kandungan air. Klimaks seperti ini disebut klimaks edafik. Secara relatif vegetasi dapat mencapai kestabilan lain dari klimatik atau klimaks yang sebenarnya di suatu wilayah. Hal ini disebabkan adanya tanah habitat yang mempunyai karakteristik yang tersendiri.

Adakalanya vegetasi terhalang untuk mencapai klimaks, oleh karena beberapa faktor selain iklim. Misalnya adanya penebangan, dipakai untuk penggembalaan hewan, tergenang dan lain-lain. Dengan demikian vegetasi dalam tahap perkembangan yang tidak sempurna (tahap sebelum klimaks yang sebenarnya) baik oleh faktor alam atau buatan. Keadaan ini disebut sub klimaks. Komunitas tanaman sub klimaks akan cenderung untuk mencapai klimaks sebenarnya jika faktor-faktor penghalang/penghambat dihilangkan.

Gangguan dapat menyebabkan modifikasi klimaks yang sebenarnya dan ini menyebabkan terbentuknya sub klimaks yang berubah (termodifikasi). Keadaan seperti ini disebut disklimaks (Ashby, 1971). Sebagai contoh vegetasi terbakar menyebabkan tumbuh dan berkembangnya vegetasi yang sesuai dengan tanah bekas terbakar tersebut. Odum (1961) mengistilahkan klimaks tersebut dengan pyrix klimaks. Tumbuh-tumbuhan yang dominan pada pyrix klimaks antara lain: Melastoma polyanthum, Melaleuca leucadendron dan Macaranga sp.

Jika pergantian iklim secara temporer menghentikan perkembangan vegetasi sebelum mencapai klimaks yang diharapkan disebut pra klimaks (pre klimaks).

Berhubungan dengan berbagai klimaks maka terdapat kekaburan arti klimaks. Oleh karena terjadi ketidak sepakatan kemudian berkembang tiga teori klimaks dengan argumentasi masing-masing.

1. Teori monoklimaks:

Teori ini dipelopori oleh Clements yang menyatakan bahwa teori klimaks berkembang dan terjadi hanya satu kali. Hal ini merupakan klimaks klimatik di suatu wilayah iklim utama.

2. Teori poliklimaks:

Klimaks merupakan keadaan komunitas yang stabil dan mandiri sehingga pada suatu habitat dapat terjadi sejumlah klimaks karena kondisi selain iklim yang berbeda.

3. Teori informasi:

Teori ini dikemukakan oleh Odum dan merupakan teori sebagai jalan tengah antara teori mooklimaks dan teori poliklimaks.

Odum berpandangan bahwa suatu komunitas baik hewan maupun vegetasi selalu memerlukan enersi dan informasi dan pada saatnya akan menghasilkan enersi dan informasi. Suatu sistem berkembang, pada permulaannya memerlukan enersi dan informasi sehingga disebut sistem tersubsidi. Pada suatu saat setelah dewasa akan menghasilkan enersi dan informasi. Sistem ini dikatakan mencapai klimaks bila perbandingan masukan dan keluaran enersi dan informasi sama dengan satu. Artinya hasil enersi dan informasi sama besar dengan masukan enersi dan informasi. Sistem yang demikian ini oleh Odum disebut Klimaks. Pengertian ini berlaku sampai sekarang.

Odum (1971) mengatakan bahwa komunitas untuk mencapai klimaks akan bervariasi tidak hanya disebabkan oleh adanya perbedaan iklim dan situasi fisiografis, tetapi ditentukan juga oleh sifat-sifat ekosistem yang berbeda.

Whittaker (1953) merupakan penyokong monoklimaks, mengatakan bahwa teori monoklimaks menekankan esensialitas (pentingnya) kesatuan vegetasi yang mencapai klimaks di suatu habitat.

Ahli-ahli lain seperti Oosting, Henry, mengatakan bahwa teori poliklimaks lebih praktis. Hal ini disokong oleh Michols, Tansley dan ahli-ahli Rusia.

Smitthusen (1950), Whittaker (1951 - 1953) dan ahli ekologi Amerika yang lain menyokong konsep poliklimaks dan semuanya percaya karena ada fakta bahwa tingkatan klimaks dinyatakan oleh lingkungan individu serta komunitas tanaman dan bukannya oleh iklim setempat.


BAB III

KESIMPULAN


  • Suksesi adalah proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur. Perubahan yang langsung dalam komposisi komunitas dan asosiasi biologis serta sifat-sifat ekosistem.

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya suksesi dalam suatu ekosistem meliputi : perubahan iklim, topografi, biotik.

  • Tahapan-tahapan yang terjadi akibat suksesi meliputi tahap nudasi, invasi, kompetisis, dan reaksi, serta stabilitas dan klimaks.

  • Macam –macam suksesi yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder dengan perbedaan ciri yang ditimbulkan.


DAFTAR PUSTAKA


Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta : PT Bumi Aksara

Leksono, Amin Setyo. 2007. Ekologi Pendekatan Diskriptif Dan Kuantitatif. Malang : Bayu Media

Muhammad. 2007. Downloads/macam suksesi.html. diakses Tanggal 20 Oktober 2010

Nuryety Schatzy. 2010.http// Downloads/suksesi-vegetasi.html. diakses Tanggal 20 Oktober 2010

Rahardjanto, Abdul Kadir. 2001. Buku Ajar Ekologi Tumbuhan. Malang : UMM Press